Prof. Premana Wardayanti Premadi, Ilmuwan Perempuan Indonesia yang Namanya Diabadikan di Asteroid

By Admin, 07 Januari 2026

Sunset in the mountains

Bagi sebagian orang, langit malam adalah ruang untuk bertanya. Bagi Prof. Premana Wardayanti Premadi, langit adalah ruang untuk memahami dan berbagi. Perjalanan akademik dan kontribusinya di bidang astrofisika dan kosmologi menunjukkan bahwa sains bukan hanya tentang rumus dan observasi, melainkan tentang bagaimana pengetahuan dapat memberi makna dan manfaat bagi manusia.

Pengakuan internasional atas kiprahnya datang pada 2017, ketika International Astronomical Union (IAU) menetapkan asteroid (12937) Premadi sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya di dunia ilmu antariksa. Sebuah pencapaian yang tidak hanya mencatat nama, tetapi juga perjalanan panjang seorang ilmuwan perempuan Indonesia di panggung global.

Meniti Jalan di Bidang yang Jarang Dipilih Perempuan

Sunset in the mountains

(Sumber : akun X @itbofficial)

Lahir pada 13 Juli 1964, Premana menempuh pendidikan Sarjana Astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB) sebelum melanjutkan studi doktoral di University of Texas at Austin. Pada 1996, ia meraih gelar doktor astrofisika menjadikannya perempuan Indonesia pertama yang menyandang gelar tersebut.

Fokus risetnya berada pada evolusi struktur skala besar alam semesta, dengan pendekatan teknik lensa gravitasi dan simulasi kosmologi. Pada era 1990-an, riset Premana termasuk pionir dalam pengembangan uji model kosmologi teoritis berbasis komputasi. Baginya, setiap galaksi memiliki kisahnya sendiri, namun tetap tunduk pada hukum alam yang sama sebuah refleksi tentang keberagaman dalam keteraturan semesta.

Memimpin Observatorium dan Menjaga Warisan Sains

Sunset in the mountains

(Sumber : kun Instagram @dhodi_syailendra)

Karya ilmiah Premana tidak berhenti di ranah teori. Penelitiannya dirujuk dalam pengembangan berbagai program pengamatan langit berskala global, termasuk Legacy Survey of Space and Time (LSST) yang mulai beroperasi pada 2025. Ia juga terlibat dalam perancangan Nancy Grace Roman Space Telescope, misi antariksa yang dijadwalkan meluncur pada 2027.

Melalui riset tersebut, Premana berperan sebagai penghubung antara kosmologi teoritis dan sistem observasi modern. Ia menjelaskan konsep kompleks seperti lensa gravitasi, materi gelap, hingga relativitas dalam konteks yang berdampak nyata, mulai dari eksplorasi antariksa hingga teknologi sehari-hari seperti sistem navigasi GPS.

Pada periode 2018-2023, Premana dipercaya menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha, menjadikannya perempuan pertama yang memimpin institusi tersebut sejak berdiri pada 1923. Di bawah kepemimpinannya, Bosscha tidak hanya diposisikan sebagai pusat riset, tetapi juga sebagai simbol keinginan manusia untuk terus bertanya dan mencari jawaban melalui sains dan teknologi terbaik di masanya.

Pada 2024, Premana menyampaikan orasi guru besar di bidang astrofisika dan kosmologi, menegaskan peran strategisnya dalam perkembangan ilmu antariksa di Indonesia.

Membawa Astronomi Lebih Dekat ke Masyarakat

Sunset in the mountains

(Sumber : unawe.org)

Karya ilmiah Premana tidak berhenti di ranah teori. Penelitiannya dirujuk dalam pengembangan berbagai program pengamatan langit berskala global, termasuk Legacy Survey of Space and Time (LSST) yang mulai beroperasi pada 2025. Ia juga terlibat dalam perancangan Nancy Grace Roman Space Telescope, misi antariksa yang dijadwalkan meluncur pada 2027.

Melalui riset tersebut, Premana berperan sebagai penghubung antara kosmologi teoritis dan sistem observasi modern. Ia menjelaskan konsep kompleks seperti lensa gravitasi, materi gelap, hingga relativitas dalam konteks yang berdampak nyata, mulai dari eksplorasi antariksa hingga teknologi sehari-hari seperti sistem navigasi GPS.

Pada periode 2018-2023, Premana dipercaya menjabat sebagai Kepala Observatorium Bosscha, menjadikannya perempuan pertama yang memimpin institusi tersebut sejak berdiri pada 1923. Di bawah kepemimpinannya, Bosscha tidak hanya diposisikan sebagai pusat riset, tetapi juga sebagai simbol keinginan manusia untuk terus bertanya dan mencari jawaban melalui sains dan teknologi terbaik di masanya.

Pada 2024, Premana menyampaikan orasi guru besar di bidang astrofisika dan kosmologi, menegaskan peran strategisnya dalam perkembangan ilmu antariksa di Indonesia.