Perjalanan Avionita Sinaga Melestarikan Tari Simalungun di Tengah Keterbatasan Fisik

By Admin, 08 April 2026

Sunset in the mountains

Avionita Sinaga, atau yang akrab disapa Vio, menjadi salah satu sosok inspiratif yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah benar-benar mampu membatasi ruang berkarya. Sebagai penari disabilitas sekaligus pendiri Simalungun Home Dancer (SIHODA), perjalanan hidupnya bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang bangkit, mencipta, dan menghidupkan kembali warisan budaya.

Cinta yang Berakar Sejak Kecil

Bagi Vio, tari bukan sekadar hobi — ia adalah cita-cita yang sudah digenggam sejak kecil. Kecintaannya pada seni membawanya memilih Jurusan Seni Tari di Universitas Negeri Medan. Dari sana, ia memupuk mimpi menjadi seorang penari sekaligus guru yang mampu menularkan kecintaan terhadap budaya kepada generasi berikutnya.

Titik Balik yang Mengubah Segalanya

Sunset in the mountains

(Sumber : idntimes.com)

Tahun 2017 menjadi fase paling berat dalam hidupnya. Sebuah kecelakaan mengubah kondisi fisiknya secara permanen. Di saat yang sama, ia juga menghadapi tekanan mental akibat pernikahan muda yang diwarnai kekerasan dalam rumah tangga. Dalam kondisi terpuruk, Vio bahkan sempat mencoba mengakhiri hidupnya.

Setelah itu, ia mengalami kelumpuhan total dan harus terbaring di tempat tidur. Tiga rumah sakit bahkan menyarankan amputasi. Proses menerima keadaan pun bukan hal yang mudah.

“Sampai hari ini pun, Vio masih belajar menerima keadaan yang sekarang.” Kalimat ini menjadi pengingat bahwa berdamai dengan diri sendiri adalah perjalanan panjang — bukan sesuatu yang instan.

SIHODA: Ruang Cinta untuk Budaya

Sunset in the mountains

(Sumber : idntimes.com)

Jauh sebelum tragedi itu terjadi, Vio telah mendirikan SIHODA pada tahun 2014. Sanggar ini lahir dari kecintaannya terhadap tari tradisional Simalungun dan keinginannya menjaga budaya tetap hidup. SIHODA bukan sekadar tempat latihan biasa — Vio membangun ekosistem budaya yang berkelanjutan: menggelar pagelaran budaya setiap tahun, membina anak-anak dan remaja mengenal tari Simalungun, menjaga nilai tradisi lewat latihan rutin, serta membuka ruang inklusif bagi penari nondisabilitas dan disabilitas.

Menari dari Tempat Tidur

Dalam kondisi belum pulih, Vio diminta tampil di Siantarman Arts Festival. Saat itu, ia bahkan belum bisa duduk, apalagi berdiri. Dengan tekad, ia merekrut enam penari melalui Facebook dan mengajar dari atas tempat tidur.

“Vio ngelatih, ngajar narinya di tempat tidur.”

Dari titik itu, ia mulai menyadari bahwa tubuhnya mungkin terbatas, tetapi kemampuannya untuk berkarya tetap utuh. Perlahan, ia belajar kembali duduk, berdiri, hingga akhirnya berjalan. Tari bukan hanya ekspresi, tapi juga terapi dan alasan untuk terus hidup.

Dari Lokal ke Panggung Dunia

Perjuangan Vio dan SIHODA akhirnya mendapat pengakuan luas. Ia menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dalam kategori Pelopor Budaya. Di tingkat internasional, SIHODA meraih juara dunia di Turki pada 2021 dan 2022, serta menyabet kategori The Best Costume selama dua tahun berturut-turut.

“Vio disabilitas pun, Vio gak minta-minta. Vio berdiri di atas kaki Vio sendiri.”

Pesan tentang Perempuan dan Kemandirian

Sunset in the mountains

(Sumber : haibunda.com)

Vio percaya bahwa setiap perempuan memiliki jalannya masing-masing. Baginya, perempuan berdaya adalah mereka yang menerima dirinya apa adanya, mencintai proses hidupnya, tetap berkarya dalam kondisi apa pun, dan mampu berdiri mandiri serta memberi manfaat.

Menjadikan Luka sebagai Kekuatan

Perjalanan hidup Vio adalah bukti bahwa luka tidak harus berakhir sebagai duka. Dari panggung kecil di daerah hingga pengakuan dunia, ia menunjukkan bahwa ketekunan bisa menjaga budaya tetap hidup.

Karena pada akhirnya, seperti yang ditunjukkan Vio: karya, konsistensi, dan keberanian untuk bangkit selalu punya cara untuk menemukan jalannya.