Perempuan Kuli Bangunan di Bali: Upah Minim, Beban Ganda, dan Mimpi yang Tertunda

By Admin, 08 April 2026

Sunset in the mountains

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Pepatah itu terdengar indah sampai hidup mengajarkan bahwa tidak semua orang punya tangga untuk mencapainya. Bagi Ni Komang Metri (44), mimpi menjadi penulis atau guru agama harus berhenti di bangku SMP. Bukan karena ia tidak mau melanjutkan, tapi karena keadaan tidak memberi ruang. Hari ini, Komang bukan berdiri di depan kelas. Ia berdiri di antara tumpukan semen dan pasir.

Sebagai kuli bangunan di Denpasar, Komang sudah menjalani pekerjaan ini selama lebih dari 20 tahun. Pekerjaan yang sering dianggap “laki-laki”, tapi dijalani dengan diam oleh banyak perempuan seperti dirinya.

“Dinikmati,” ujarnya pelan, dengan mata yang sempat berkaca-kaca. Bukan karena mudah. Tapi karena tidak ada pilihan lain.

Hidup yang Harus Terus Jalan

Sunset in the mountains

(Sumber : bbc.com)

Setiap pagi, Komang bangun lebih dulu untuk mengurus keluarga. Lalu ia menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Tabanan ke Denpasar bersama suaminya. Upahnya Rp120.000 per hari. Yang bisa dibawa pulang? Sekitar Rp60.000. Sisanya habis untuk makan dan biaya perjalanan.

Cerita Komang bukan satu-satunya. Ada Nengah Riadi (38), yang membawa anak-anaknya ke lokasi proyek karena tidak ada yang menjaga di rumah. Ada juga Evi (45), yang merantau dari Jawa ke Bali demi upah yang sedikit lebih layak.

Mereka bekerja dari pagi sampai sore. Lalu tetap memasak, mencuci, dan mengurus keluarga. “Kuat, ya dikuat-kuatin. Kalau enggak kuat, enggak bisa makan,” kata Nengah. Bukan motivasi, tapi realita.

Ketika Perempuan Menanggung Lebih Banyak

Sunset in the mountains

(Sumber : bbc.com)

Di Bali, perempuan tidak hanya berperan sebagai istri dan ibu. Mereka juga aktif dalam kegiatan adat dan keagamaan — menyiapkan upacara, menjaga tradisi, hingga menjadi penggerak ekonomi keluarga. Namun di saat yang sama, ketimpangan masih nyata. Upah mereka lebih rendah dibanding laki-laki, meskipun beban kerja sering kali sama bahkan lebih.

Mereka bukan perempuan yang “kurang beruntung”. Mereka adalah perempuan yang terus bertahan di sistem yang belum sepenuhnya adil. Dan di tengah kerasnya realita, mereka tetap bekerja, tetap mengurus keluarga, tetap menjalankan peran sosial tanpa banyak pilihan, tanpa banyak suara.

Tentang Mimpi yang Berubah

Mungkin tidak semua orang bisa menggantungkan cita-citanya setinggi langit. Tapi bukan berarti mereka berhenti bermimpi. Hanya saja, bentuk mimpinya berubah. Bukan lagi tentang menjadi sesuatu. Tapi tentang bertahan hidup. Tentang memastikan dapur tetap mengepul. Tentang anak-anak tetap bisa makan dan, kalau beruntung, sekolah lebih tinggi dari orang tuanya.

Dan di situlah, tanpa banyak disadari, perempuan seperti Komang, Nengah, dan Evi tidak hanya bekerja. Mereka sedang menahan dunia agar tetap berjalan.