Perempuan Juga Berperan: Dua Tokoh di Balik Lahirnya Pancasila

By Admin, 31 Mei 2025

Sunset in the mountains

Selama ini, sejarah lahirnya Pancasila sering kali dikaitkan dengan tokoh-tokoh pria. Nama-nama seperti Soekarno, Mohammad Yamin, dan Soepomo hampir selalu disebut dalam setiap peringatan Hari Lahir Pancasila. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di balik sidang-sidang penting BPUPKI, ada dua sosok perempuan yang ikut andil dalam menyusun dasar negara yaitu Maria Ulfah Santoso dan Siti Sukaptinah Soenarjo Mangoenpoespito. Keduanya bukan sekadar pelengkap, tapi pemikir dan pejuang yang menyuarakan nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan, nilai yang akhirnya terangkum dalam lima sila Pancasila.

Maria Ulfah Santoso: Jejak Perempuan Pertama di Kabinet Indonesia

Sunset in the mountains

(Sumber : Kumparan.com)

Lahir di Serang, Banten pada 18 Agustus 1911, Maria Ulfah Santoso adalah perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Leiden, Belanda. Ia juga menjadi perempuan pertama yang duduk sebagai Menteri dalam sejarah Republik Indonesia.

Berangkat dari keresahan melihat ketidakadilan terhadap perempuan, Maria lebih memilih hukum ketimbang kedokteran agar bisa menyuarakan hak-hak kaum perempuan yang kala itu dipandang sebelah mata. Pergaulannya dengan tokoh-tokoh besar seperti Sutan Sjahrir, Hatta, hingga Haji Agus Salim membentuk pemikirannya yang progresif dan tajam.

Dalam sidang BPUPKI, Maria menjadi satu dari dua perempuan yang turut berkontribusi merumuskan dasar negara. Ia menyuarakan pentingnya asas kesetaraan antara laki-laki dan perempuan serta mendorong agar sila Ketuhanan Yang Maha Esa bersifat inklusif dan bisa merangkul seluruh kepercayaan di Nusantara. Ia juga mengusulkan penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, sebuah sumbangsih besar dalam memperkuat identitas nasional.

Siti Sukaptinah: Menggaungkan Perempuan dalam Politik dan Parlemen

Sunset in the mountains

(Sumber : Wikipedia)

Nama Siti Sukaptinah Soenarjo Mangoenpoespito mungkin tak sering terdengar di buku pelajaran sejarah, tapi peranannya sangat penting dalam perumusan ide-ide kebangsaan.

Sebagai anggota BPUPKI, ia dikenal lantang menyuarakan isu perempuan dalam masyarakat, termasuk menuntut pembatasan poligami dan memperluas akses pendidikan untuk anak perempuan. Sukaptinah bahkan menjadi salah satu tokoh yang pertama kali menyerukan "Indonesia Berparlemen" kepada Komisi Visman pada 1941, sebuah langkah besar dalam mendorong demokrasi di masa penjajahan.

Pasca-kemerdekaan, ia aktif membentuk Perwari (Persatuan Wanita Indonesia) dan membubarkan organisasi Fujinkai bentukan Jepang, sebagai bentuk kemandirian perempuan Indonesia dalam perjuangan.

Bukan Hanya Laki-Laki, Perempuan Juga Penentu Arah Bangsa

Sunset in the mountains

(Sumber : gpriority.co.id)

Kehadiran Maria dan Sukaptinah di ruang-ruang strategis pembentukan bangsa membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya hasil kerja para “Bapak Bangsa”, tapi juga hasil pemikiran dan keberanian dari para "Ibu Bangsa". Kita tidak bisa bicara soal lahirnya Pancasila tanpa menyebut suara-suara perempuan yang memperjuangkan kesetaraan, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Dalam momen bersejarah ini, mari kita ingat dan rayakan peran penting mereka.

Selamat Hari Lahir Pancasila!

Semoga semangat inklusif, adil, dan bersatu dari para pendiri bangsa baik laki-laki maupun perempuan terus hidup dalam setiap langkah kita membangun Indonesia.