Perjalanan Avionita Sinaga Melestarikan Tari Simalungun di Tengah Keterbatasan Fisik

By Admin, 16 Mei 2024

Peran Finansial Perempuan Meningkat di Tengah Upaya Menjaga Kesehatan dan Masa Depan

Peran finansial perempuan

Menjelang Hari Kartini, kita sering merayakan sosok perempuan kuat, mandiri, dan penuh dedikasi. Namun di balik itu, ada realita yang jarang dibicarakan — bahwa banyak perempuan justru menempatkan dirinya di urutan terakhir.

Berdasarkan survei terbaru Sun Life, dari sekitar 142 juta perempuan Indonesia (Ditjen Dukcapil, 2025), sebagian besar menunjukkan peran yang semakin kuat dalam mengelola keuangan keluarga. Namun di saat yang sama, banyak dari mereka harus mengorbankan kesehatan dan masa depan finansialnya sendiri demi memastikan keluarga tetap baik-baik saja.

Ketika Perempuan Memilih Mengalah

Survei tersebut mengungkap bahwa 57% perempuan Indonesia pernah mengabaikan perawatan medis demi mendukung anak, orang tua, atau anggota keluarga lainnya. Ini bukan keputusan yang mudah, tetapi sering kali terasa sebagai satu-satunya pilihan.

Pengorbanan ini juga terlihat dalam aspek finansial. Sebanyak 82% perempuan mengurangi pengeluaran pribadi seperti rekreasi, 30% membatasi peluang investasi, dan 28% menunda tabungan pensiun.

Di satu sisi, mereka menjaga keluarga. Di sisi lain, mereka perlahan menjauh dari kebutuhan dirinya sendiri.

Realita Sandwich Generation dan “Triple Penalty”

Sandwich generation perempuan

Tekanan ini semakin terasa bagi perempuan yang berada dalam posisi sandwich generation — mereka yang harus menopang kebutuhan anak sekaligus orang tua. Sebanyak 96% perempuan memperkirakan akan menanggung perawatan lansia, tetapi hanya 26% yang sudah menyiapkan dana khusus untuk itu.

Akibatnya, muncul apa yang disebut sebagai “triple penalty.” Sebanyak 59% merasa tanggung jawab pengasuhan menghambat keamanan finansial, 47% berdampak pada karier, dan 47% lainnya mengaku kesulitan merawat diri sendiri.

Di tengah tekanan tersebut, perempuan justru memegang peran besar dalam keuangan keluarga. Sebanyak 62% menjadi pengambil keputusan finansial utama, bahkan meningkat hingga 92% bagi perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.

Namun ironisnya, hanya 13% yang melibatkan penasihat keuangan profesional. Artinya, banyak perempuan harus mengambil keputusan besar dengan dukungan yang masih terbatas.

Ketika Kuat Tidak Selalu Berarti Baik-Baik Saja

Temuan ini menjadi pengingat bahwa di balik perempuan yang terlihat “kuat”, sering kali ada banyak hal yang mereka tahan sendiri.

“Dalam menjaga keluarga, perempuan seringkali mengorbankan kesehatan, rasa aman, dan rencana finansial mereka sendiri,” ujar Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo.

Namun, pengorbanan tidak seharusnya menjadi satu-satunya jalan.

Saatnya Perempuan Juga Memprioritaskan Diri Sendiri

Perempuan hari ini bukan hanya penjaga keseimbangan keluarga, tetapi juga penggerak utama dalam setiap keputusan finansial. Karena itu, penting bagi perempuan untuk tidak hanya fokus memberi, tetapi juga mulai menjaga dirinya sendiri — baik secara kesehatan maupun finansial.

Perencanaan keuangan yang lebih relevan, praktis, dan mudah diakses menjadi kunci. Bukan untuk mengurangi peran mereka dalam keluarga, tetapi justru untuk memastikan bahwa mereka tetap kuat dalam jangka panjang.

Karena pada akhirnya, perempuan yang berdaya bukan hanya yang mampu bertahan untuk orang lain, tetapi juga yang mampu menjaga dirinya sendiri.