By Admin, 10 Februari 2026

Perjalanan pers Indonesia tidak bisa dilepaskan dari keberanian perempuan yang memilih bersuara di masa ketika ruang publik nyaris sepenuhnya dikuasai laki-laki. Salah satu tonggak terpenting hadir lewat sosok Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pertama Indonesia. Pada 1912, ia mendirikan Soenting Melajoe, surat kabar perempuan pertama yang menjadi ruang bagi gagasan emansipasi, pendidikan, dan kesadaran perempuan. Lewat tulisan-tulisannya, Roehana tidak hanya melaporkan realitas, tetapi juga mengubah cara perempuan melihat dirinya sendiri. Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional pada 2019 menjadi penegasan bahwa pers adalah bagian dari perjuangan bangsa.
Pers Perempuan di Masa Peralihan Bangsa

(Sumber : kompas.com)
Memasuki masa pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan, peran perempuan dalam pers semakin menguat. Herawati Diah muncul sebagai salah satu tokoh penting yang mengisi ruang redaksi dengan ketajaman berpikir dan keberanian sikap. Keterlibatannya di Harian Merdeka serta kepemimpinannya dalam majalah Keluarga menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya penulis, tetapi juga penentu arah narasi. Pers menjadi alat pendidikan sosial, tempat nilai kebangsaan dan kehidupan keluarga dibicarakan secara kritis.
Wajah Baru Pers di Era Modern

(Sumber : id.wikipedia.org)
Hari ini, kiprah perempuan di dunia pers Indonesia semakin terlihat di posisi strategis. Nama-nama seperti Rosianna Silalahi di KompasTV, Najwa Shihab melalui Narasi TV, Uni Lubis di IDN Times, dan Desi Anwar sebagai jurnalis senior, mencerminkan perubahan besar dalam lanskap media. Mereka hadir bukan hanya sebagai figur publik, tetapi sebagai pemimpin yang menentukan standar etik, keberanian editorial, dan kualitas jurnalisme di era digital.
Tantangan yang Masih Nyata

Meski kemajuan terlihat jelas, tantangan kesetaraan gender belum sepenuhnya teratasi. Survei Aliansi Jurnalis Independen (AJI) tahun 2012 mencatat bahwa jumlah jurnalis perempuan masih lebih sedikit dibanding laki-laki, dan hanya sekitar 6 persen yang menduduki posisi puncak redaksi. Tantangan di lapangan, bias struktural, serta beban ganda masih menjadi realitas yang dihadapi banyak perempuan pers hingga hari ini.
Menjaga Api Jurnalisme Tetap Menyala
Sejarah panjang ini membuktikan bahwa perempuan pers Indonesia terus bergerak, melampaui batasan patriarki dan redefinisi peran. Dari media cetak hingga platform digital, dari isu emansipasi hingga liputan kebijakan publik, perempuan telah menjadi penggerak opini dan penjaga nurani publik. Pers Indonesia tumbuh bersama keberanian perempuan-perempuan yang memilih menulis, bertanya, dan memimpi karena di tangan merekalah, suara kebenaran terus menemukan jalannya.