Marie Thomas Dokter Perempuan Pertama di Indonesia dan Awal Perjalanan Perempuan di Dunia Medis

By Admin, 05 Februari 2026

Sunset in the mountains

Di balik sejarah panjang dunia kedokteran Indonesia, ada satu nama perempuan yang kerap luput disebut, padahal jejaknya membuka jalan bagi begitu banyak perempuan setelahnya. Ia adalah Dr. Maria Emilia Thomas, atau yang lebih dikenal sebagai Marie Thomas. Perempuan Indonesia pertama yang berhasil menjadi dokter, sekaligus pelopor dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Tanah Air.

Perempuan, Pendidikan, dan Zaman yang Tidak Ramah

Marie Thomas lahir pada 17 Februari 1896 di Likupang, Minahasa Utara. Ia tumbuh di tengah keluarga militer yang membuatnya berpindah-pindah daerah, dari Sulawesi hingga Jawa. Perpindahan ini justru memperkaya pengalaman pendidikannya dan membentuk daya tahan mental yang kelak sangat ia butuhkan.

Awal abad ke-20 adalah masa ketika pendidikan tinggi, apalagi pendidikan kedokteran, hampir sepenuhnya tertutup bagi perempuan. STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) sekolah kedokteran paling bergengsi saat itu, bahkan secara resmi tidak menerima mahasiswa perempuan.

Namun sejarah berubah berkat dorongan Aletta Jacobs, dokter perempuan pertama di Belanda. Pada kunjungannya ke Hindia Belanda tahun 1911, Aletta menyuarakan satu argumen penting: perempuan Bumiputera membutuhkan dokter perempuan, karena alasan agama, adat, dan moral sering membuat mereka enggan atau tidak diizinkan diperiksa oleh dokter laki-laki. Akhirnya, pada 1912, STOVIA membuka pintunya bagi perempuan.

Sendiri di Tengah 180 Laki-laki

Sunset in the mountains

(Sumber : Kompas.com)

Marie Thomas mendaftar ke STOVIA pada September 1912. Saat itu, ia menjadi satu-satunya perempuan di antara sekitar 180 mahasiswa laki-laki. Tantangannya tidak berhenti di situ. Berbeda dengan mahasiswa laki-laki, mahasiswa perempuan:

  • Tidak mendapat pembiayaan pemerintah

  • Tidak memiliki ikatan kerja setelah lulus

  • Harus membayar sendiri biaya studi dan tempat tinggal

Di sinilah solidaritas perempuan lintas bangsa berperan. Charlotte Jacobs adik Aletta bersama rekan-rekannya mendirikan SOVIA (Studiefonds voor Opleiding van Vrouwelijke Inlandsche Artsen), sebuah yayasan yang memberikan dukungan dana bagi perempuan yang ingin belajar kedokteran. Melalui yayasan inilah Marie bisa melanjutkan pendidikannya.

Selama bertahun-tahun, Marie menempuh pendidikan keras: mulai dari pendidikan dasar ilmu pasti hingga ilmu kedokteran. Dua tahun kemudian, ia ditemani Anna Warouw, perempuan kedua yang masuk STOVIA. Keduanya dijuluki de Tweeling Si Kembar dua perempuan Minahasa yang menantang batas zamannya.

Lulus, Mengabdi, dan Memilih Jalan Sunyi

Pada tahun 1922, Marie Thomas lulus dengan hasil memuaskan dan tercatat sebagai dokter perempuan pertama lulusan STOVIA. Ia memulai karier di CBZ Batavia (kini RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo), lalu bertugas di Medan, Manado, dan Jakarta.

Pengalamannya sebagai asisten Dr. Nicolaas Boerma pelopor obstetri dan penggunaan alat kontrasepsi membuat Marie menaruh perhatian besar pada kesehatan perempuan. Ia menjadi salah satu dokter pertama di Indonesia yang memperkenalkan kontrasepsi dan Intrauterine Device (IUD) sebagai upaya pengendalian kelahiran.

Di tengah kariernya, Marie menikah dengan Mohammad Joesoef, sesama dokter lulusan STOVIA. Bersama suaminya, ia menetap di Sumatera Barat dan bekerja di Layanan Kesehatan Masyarakat.

Membangun Masa Depan Perempuan dari Bukittinggi

Sunset in the mountains

(Sumber : Kompas.com)

Puncak pengabdian Marie Thomas mungkin bukan di ruang operasi besar, melainkan di sebuah kota kecil: Bukittinggi.

Pada tahun 1950, ia mendirikan sekolah kebidanan pertama di Sumatra, dan yang kedua di Indonesia. Lewat sekolah ini, Marie tidak hanya menyembuhkan pasien, tetapi juga mencetak generasi tenaga kesehatan perempuan yang kelak menjadi ujung tombak kesehatan ibu dan anak.

Marie dikenal sebagai dokter yang tidak menolak pasien, bahkan ketika mereka tak mampu membayar. Baginya, kesehatan bukanlah hak istimewa, melainkan hak setiap manusia.

Warisan yang Tak Tertulis

Marie Thomas wafat pada 10 Oktober 1966, dalam usia 70 tahun. Namanya mungkin tidak selalu tercetak tebal di buku sejarah, tetapi jejaknya hidup dalam setiap perempuan Indonesia yang hari ini bisa bermimpi menjadi dokter, spesialis, peneliti, atau pemimpin di bidang kesehatan.

Ia bukan hanya dokter perempuan pertama Indonesia. Ia adalah simbol keberanian, ketekunan, dan keyakinan bahwa perubahan besar sering dimulai dari satu langkah sunyi diambil sendirian, di tengah keraguan banyak orang. Marie Thomas telah membuktikan bahwa ketika pintu tertutup bagi perempuan, keberanian bisa mengubahnya menjadi jalan.