By Admin, 13 Mei 2026

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk ramah lingkungan dan berbahan alami, sebuah inovasi menarik datang dari dunia akademik Indonesia. Salah satu dosen Universitas Brawijaya (UB) berhasil mengembangkan sunscreen anak berbahan dasar ekstrak rambut jagung — limbah pertanian yang selama ini sering dianggap tidak memiliki nilai guna.
Melalui produk bernama Hi-To-Go Sun Protector, inovasi ini tidak hanya berbicara soal perawatan kulit, tetapi juga tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat mengubah sesuatu yang sederhana menjadi produk bernilai tinggi dan berdampak luas.
Berawal dari Limbah yang Sering Terabaikan

Pengembangan sunscreen ini diprakarsai oleh dosen Fakultas Teknologi Pertanian UB, Dr. Rosalina Ariesta Laeliocattleya. Ia melihat bahwa rambut jagung memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Selama ini, rambut jagung umumnya hanya menjadi limbah pertanian yang dibuang begitu saja. Padahal, di balik tampilannya yang sederhana, terdapat kandungan alami yang berpotensi digunakan sebagai bahan aktif perlindungan kulit dari sinar UV.
“Kami ingin mengkaji nilai bahan aktif dalam suatu produk yang awalnya dianggap limbah, seperti rambut jagung, sehingga bisa memberikan nilai tambah sekaligus lebih ramah lingkungan,” jelas Rosalina.
Dari pemikiran tersebut, lahirlah Hi-To-Go Sun Protector, sunscreen berbentuk spray yang praktis digunakan untuk anak-anak usia 4–14 tahun.
Sunscreen Anak dengan Pendekatan Ramah Lingkungan
Produk ini merupakan bagian dari lini BOUMI, merek perawatan diri anak hasil kolaborasi Universitas Brawijaya bersama PT Cedefindo di bawah Martha Tilaar Group.
Secara formulasi, sunscreen ini mengombinasikan ekstrak rambut jagung dengan bahan alami lain seperti minyak atsiri dan lavender oil. Produk ini juga dilengkapi SPF 50 PA++ yang mampu melindungi kulit anak dari paparan sinar UVA dan UVB.
Tak hanya fokus pada perlindungan kulit, produk ini juga dirancang agar nyaman digunakan anak-anak, mulai dari bentuk spray yang praktis hingga aroma lavender alami yang menenangkan. Sunscreen ini dibuat dengan mempertimbangkan kulit anak yang cenderung lebih sensitif dan aktif beraktivitas di luar ruangan.
Ketika Riset Bertemu Potensi Lokal Indonesia

(Sumber: kompas.com)
Inovasi ini menjadi contoh bagaimana hasil riset kampus tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar dihilirisasikan menjadi produk nyata yang bisa digunakan masyarakat.
Dalam proses produksinya, UB juga bekerja sama dengan petani lokal, khususnya di Pulau Jawa, untuk memperoleh bahan baku rambut jagung. Artinya, inovasi ini tidak hanya berdampak pada dunia kecantikan dan kesehatan kulit, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi sektor pertanian.
Dengan memanfaatkan limbah sebagai bahan utama, biaya produksi pun menjadi lebih efisien sekaligus mendukung konsep keberlanjutan lingkungan.
“Keunggulan kami adalah mengangkat bahan yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi,” ujar Rosalina.
Lebih dari Sekadar Sunscreen
Penelitian terhadap rambut jagung ternyata tidak berhenti sampai di sini. Tim peneliti UB juga tengah mengembangkan potensi lain dari bahan tersebut, mulai dari teh herbal hingga kemungkinan manfaat anti kanker yang masih dalam tahap penelitian lebih lanjut.
Hal ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya lokal Indonesia sebenarnya sangat besar, hanya saja membutuhkan riset, inovasi, dan keberanian untuk melihat peluang dari sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Bukti bahwa Inovasi Bisa Dimulai dari Hal Sederhana
Kehadiran Hi-To-Go Sun Protector menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari teknologi yang rumit atau bahan mahal. Terkadang, solusi masa depan justru bisa lahir dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita — termasuk dari limbah pertanian yang sering terabaikan.
Di tengah tantangan lingkungan dan kebutuhan akan produk yang lebih berkelanjutan, langkah seperti ini menjadi contoh bagaimana dunia pendidikan, industri, dan masyarakat dapat berkolaborasi menciptakan perubahan nyata.
Karena pada akhirnya, inovasi terbaik bukan hanya soal menciptakan produk baru, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ide mampu memberi manfaat bagi manusia, lingkungan, dan masa depan.