Perjalanan Avionita Sinaga Melestarikan Tari Simalungun di Tengah Keterbatasan Fisik

By Admin, 16 Mei 2024

Beban Ganda dan Minim Perlindungan Jadi Realita Jurnalis Perempuan

Jurnalis perempuan

Peran jurnalis perempuan di Indonesia semakin penting, terutama dalam mengangkat isu-isu sosial, lingkungan, hingga kelompok rentan. Namun di balik kontribusi tersebut, mereka masih menghadapi berbagai tantangan yang tidak sederhana — mulai dari diskriminasi hingga kekerasan berbasis gender.

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Nany Afrida, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap jurnalis perempuan masih tergolong tinggi. Ia menilai persoalan ini bukan hanya terjadi secara individual, tetapi bersifat sistemik dan membutuhkan solusi bersama.

Tekanan Berlapis yang Masih Dinormalisasi

Menurut Nany, jurnalis perempuan lebih rentan mengalami kekerasan berbasis gender, baik secara fisik maupun digital. Sayangnya, kondisi ini sering kali dinormalisasi, sementara mekanisme perlindungan di ruang redaksi masih lemah.

“Diskriminasi ini bersifat sistemik, bukan kasus individual, jadi harus kita selesaikan bersama-sama. Kekerasan terhadap jurnalis perempuan baik fisik maupun digital juga masih tinggi dan sering dinormalisasi,” ujarnya dalam sesi dialog Pesta Media 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Selain itu, jurnalis perempuan juga menghadapi beban kerja ganda serta perlindungan kerja yang belum optimal. Ketimpangan juga terlihat dalam aspek remunerasi dan pembagian tugas liputan.

Representasi yang Masih Rendah

Data yang disampaikan menunjukkan bahwa jumlah jurnalis perempuan di Indonesia baru sekitar 21,5 persen. Angka ini mencerminkan masih adanya ketimpangan dalam industri media.

Minimnya representasi ini bukan hanya soal angka, tetapi juga berdampak pada sudut pandang pemberitaan. Perspektif perempuan sering kali belum terwakili secara maksimal, terutama dalam isu-isu yang menyangkut pengalaman perempuan dan kelompok rentan.

Peran Penting dalam Isu Lingkungan dan Sosial

Isu ini juga menjadi sorotan dalam gelaran Pesta Media AJI Jakarta 2026 yang kembali digelar setelah hiatus selama 14 tahun. Mengangkat tema kolaborasi lintas sektor, acara ini menempatkan isu lingkungan dan kebebasan pers sebagai fokus utama.

Talkshow bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan” menghadirkan tiga jurnalis perempuan, yaitu Evi Mariani, Nany Afrida, dan Sapariah Saturi. Ketiganya menekankan bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga kemanusiaan yang memperlebar ketimpangan.

Perspektif yang Selama Ini Terlewat

Jurnalis perempuan meliput

Managing Editor Mongabay Indonesia, Sapariah Saturi, menyoroti pentingnya kehadiran jurnalis perempuan dalam liputan lingkungan. Menurutnya, perempuan sering kali memiliki akses dan kedekatan dengan narasumber yang tidak selalu bisa dijangkau oleh jurnalis laki-laki.

Sementara itu, Evi Mariani, pendiri Project Multatuli, menegaskan bahwa kehadiran jurnalis perempuan bukan sekadar memenuhi kuota, tetapi untuk memperkaya perspektif.

“Perspektif itu harus diperkaya. Jurnalis perempuan bisa menghadirkan sudut pandang yang selama ini tidak terlihat atau tidak terdengar,” ujarnya.

Bukan Sekadar Representasi, Tapi Kebutuhan

Kehadiran jurnalis perempuan bukan hanya soal kesetaraan, tetapi juga kebutuhan dalam menghasilkan liputan yang lebih utuh dan inklusif.

Di tengah tantangan yang ada — mulai dari tekanan kerja, diskriminasi, hingga minimnya perlindungan — suara jurnalis perempuan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas jurnalisme.

Karena pada akhirnya, semakin beragam perspektif yang hadir dalam media, semakin luas pula cerita yang bisa disampaikan — terutama bagi mereka yang selama ini berada di pinggiran.