By Admin, 28 Februari 2026

Selat Makassar dikenal sebagai salah satu jalur maritim tersibuk di dunia. Sekitar 36.000 kapal melintasi perairan yang membentang di antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi ini setiap tahun. Selain kapal industri dan barang, kapal-kapal pesiar asing juga kerap melintas menuju destinasi wisata Indonesia timur.
Namun, di balik padatnya lalu lintas laut tersebut, tersembunyi krisis ekologis serius. Para peneliti menyebut wilayah ini sebagai “medan perang ekologis”. Ribuan hektare terumbu karang rusak akibat tabrakan kapal, jangkar raksasa, praktik bom ikan, hingga penggunaan bius sianida. Data pemantauan menunjukkan sebagian besar tutupan karang hidup di Kepulauan Spermonde kini berada di bawah 50 persen, bahkan ada yang tersisa sekitar 25 persen saja.
Ancaman Ganda di Garis Wallace

(Sumber : bbc.com)
Sebagai bagian dari kawasan biogeografi Garis Wallace, Selat Makassar memiliki nilai ekologis global. Namun posisinya sebagai koridor ekonomi padat membuat tekanan terhadap ekosistemnya sangat tinggi.
Ancaman datang dari dua arah. Dari laut, praktik penangkapan ikan ilegal dan aktivitas pelayaran merusak struktur karang secara fisik. Tabrakan kapal atau pelepasan jangkar dapat menghancurkan koloni karang yang membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh.
Dari darat, aktivitas pertanian, perkebunan, dan penebangan hutan mempercepat sedimentasi dan eutrofikasi. Lumpur dan nutrien berlebih memicu pertumbuhan alga yang menutupi permukaan karang, menghambat pemulihan alami, bahkan membuat rehabilitasi menjadi jauh lebih sulit.
Munculnya “Tukang Kebun Bawah Laut”
Di tengah kondisi memprihatinkan itu, harapan justru tumbuh dari sekelompok perempuan muda di Makassar. Mereka menyebut diri sebagai “tukang kebun bawah laut”.
Dilla (24), Dayani Mariam atau Iyam, dan Nimas adalah bagian dari generasi baru konservasionis laut. Di akhir pekan, mereka mengenakan perlengkapan selam lengkap dan turun ke dasar laut Pulau Samalona. Di sana, mereka merakit substrat buatan dan “menjahit” fragmen karang hidup menggunakan pengikat kabel, lalu menanamkannya di dasar laut yang memutih akibat kerusakan.
Bagi Dilla, momen pertama melihat karang rusak terasa menyedihkan. Namun kesedihan itu berubah menjadi aksi. “Melihat proses tumbuh karang itu mengajarkan kesabaran,” ungkapnya. Ketika ikan kembali datang dan ekosistem perlahan pulih, rasa lelah terbayar.
Perempuan dan Sentuhan yang Menghidupkan

(Sumber : bbc.com)
Konservasi laut kerap dianggap sebagai pekerjaan fisik yang identik dengan laki-laki. Namun Iyam dan Nimas membuktikan sebaliknya. Mereka menekankan bahwa pekerjaan seperti mengambil fragmen karang, mengikat, dan merawatnya bisa dilakukan bersama-sama.
Menariknya, pelibatan perempuan justru memberi keuntungan teknis. Polip karang sangat sensitif terhadap sentuhan kasar. Sentuhan yang lebih lembut membantu meningkatkan tingkat keberhasilan transplantasi.
Hasilnya mulai terlihat. Penelitian terbaru menunjukkan tingkat pertumbuhan transplantasi di Pulau Samalona mencapai lebih dari 80 persen dalam 10 bulan terakhir, dengan ketahanan hidup yang tinggi terhadap stres lingkungan.
Dari Dasar Laut ke Media Sosial

(Sumber : bbc.com)
Gerakan ini tidak berhenti di bawah air. Para perempuan muda ini juga aktif mengampanyekan konservasi melalui media sosial. Konten edukasi, laporan perkembangan karang, hingga ajakan adopsi karang menjangkau masyarakat luas.
Program adopsi karang memungkinkan siapa pun berkontribusi, bahkan tanpa harus menyelam. Donasi yang diberikan digunakan untuk perawatan, pembersihan, dan pemantauan rutin setiap bulan. Para adopter menerima laporan berkala tentang pertumbuhan karang yang mereka dukung.
Media sosial menjadi jembatan antara aksi nyata dan kesadaran publik. Di sinilah kontribusi perempuan menjadi semakin signifikan, mereka bukan hanya pelaksana restorasi, tetapi juga komunikator isu lingkungan.
Harapan yang Tumbuh Perlahan
Kerusakan terumbu karang bukan hanya soal ekologi, tetapi juga ekonomi. Tanpa karang yang sehat, wisata bahari di Kepulauan Spermonde terancam. Abrasi meningkat, garis pantai bergeser, dan mata pencaharian masyarakat terdampak.
Di tengah lalu lintas 36.000 kapal per tahun, Dilla, Iyam, dan Nimas menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu datang dari kebijakan besar. Kadang, ia tumbuh perlahan dari tangan-tangan yang sabar merawat kehidupan di dasar laut.
Seperti karang yang mereka tanam, harapan itu mungkin kecil dan rapuh di awal. Tetapi dengan perawatan, kolaborasi, dan konsistensi, ia bisa tumbuh kuat, menghidupkan kembali warna-warni laut Selat Makassar untuk generasi mendatang.