By Admin, 08 April 2026

Sebanyak 95% perempuan di Indonesia masih menggunakan pembalut sekali pakai. Praktis, mudah didapat, dan sudah menjadi bagian dari keseharian sejak dulu. Namun di balik kemudahan itu, ada persoalan besar yang sering luput dibicarakan: dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan.
Menurut data dari Biyung Indonesia, setiap tahun sekitar 16,8 miliar pembalut sekali pakai berakhir menjadi sampah di Indonesia. Jika dikumpulkan, luasnya bisa mencapai 378 km² setara dengan luas Kota Semarang. Angka ini menunjukkan bahwa menstruasi bukan lagi sekadar isu personal, tetapi telah menjadi persoalan lingkungan berskala nasional.
Masalahnya terletak pada komposisi pembalut itu sendiri. Penelitian dari Friends of the Earth menyebutkan bahwa satu lembar pembalut mengandung hingga 90% plastik, setara dengan empat kantong plastik, yang membutuhkan waktu hingga 450 tahun untuk terurai. Sebaliknya, pembalut organik yang terbuat dari kapas alami atau bahan nabati lainnya dapat terurai dalam waktu 6 hingga 24 bulan tanpa meninggalkan residu berbahaya.
Tidak Hanya Lingkungan, Kesehatan Juga Dipertaruhkan

(Sumber : alonesia.com)
Dampak pembalut konvensional tidak berhenti pada lingkungan. Kesehatan perempuan juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan. Pembalut sekali pakai umumnya terbuat dari campuran bahan sintetis, plastik, zat superabsorben, serta pemutih berbasis klorin. Kombinasi ini dapat memicu pertumbuhan bakteri, mengganggu keseimbangan pH area sensitif, hingga menyebabkan iritasi, infeksi jamur, dan keputihan.
Temuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bahkan menunjukkan bahwa sejumlah merek pembalut dan pantyliner di Indonesia mengandung klorin. Sebaliknya, pembalut organik dibuat dari bahan alami seperti kapas, bambu, atau serat tumbuhan lainnya, tanpa bahan kimia berbahaya. Produk ini cenderung lebih aman bagi kulit sensitif karena bersifat hypoallergenic dan bebas dari zat karsinogenik.
Kesadaran yang Masih Rendah
Meski risikonya cukup jelas, kesadaran masyarakat terhadap dampak pembalut konvensional masih tergolong rendah. Studi “Bloody Honest” (2022) mengungkapkan bahwa 86% orang tua di Indonesia tidak memberikan edukasi menstruasi kepada anak perempuan mereka. Akibatnya, menstruasi masih dianggap sebagai topik yang tabu, termasuk pembahasan tentang pengelolaan limbahnya.
Padahal, pembalut bekas termasuk dalam kategori limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Hingga saat ini belum ada regulasi spesifik di Indonesia yang mengatur pengelolaan sampah menstruasi secara komprehensif, sehingga pembalut bekas sering kali tercampur dengan sampah domestik lainnya dan berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa penanganan khusus.
Belajar dari Negara Lain dan Mencari Solusi

(Sumber : sabangmeraukenews.com)
Beberapa negara telah mulai beralih ke solusi yang lebih ramah lingkungan. Di India, inisiatif seperti Saathi Pads berhasil mengembangkan pembalut berbahan serat pisang dan bambu, sekaligus mengurangi limbah plastik dalam jumlah signifikan.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk melakukan hal serupa. Upaya ini bisa dimulai dari tiga pendekatan utama: mendorong produksi pembalut organik, memperluas distribusi agar lebih terjangkau, serta meningkatkan edukasi publik tentang menstruasi dan pengelolaan limbahnya.
Kampanye yang melibatkan sekolah, kampus, hingga komunitas menjadi penting untuk memutus stigma. Di sisi lain, kebijakan pemerintah juga dibutuhkan untuk mengatur standar produk, memberikan insentif bagi industri ramah lingkungan, serta memastikan pengelolaan limbah dilakukan dengan benar.
Pilihan Kecil dengan Dampak Besar
Menstruasi adalah hal alami. Namun cara mengelolanya adalah pilihan. Setiap pembalut yang digunakan bukan sekadar produk sekali pakai, tetapi juga bagian dari jejak yang ditinggalkan terhadap lingkungan. Ketika satu pembalut bisa bertahan hingga ratusan tahun di bumi, maka keputusan untuk beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan menjadi semakin relevan.
Perubahan memang tidak harus terjadi sekaligus. Namun kesadaran adalah langkah awal. Karena dari sesuatu yang selama ini dianggap “biasa”, ternyata tersimpan dampak yang tidak kecil — baik bagi tubuh maupun bagi bumi.